You don't have javascript enabled. Good luck with that.
Pencarian
Udara jakarta goid ist4
photo Istimewa - Beritajakarta.id

Warga Kini Bisa Cek Prediksi Kualitas Udara Tiga Hari ke Depan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meluncurkan Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS) pada website udara.jakarta.go.id untuk membantu masyarakat mengambil keputusan lebih dini.

"Masyarakat dapat berperan dengan memanfaatkan informasi ini,"

Kehadiran EWS ini menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk menghadirkan layanan publik yang semakin dekat dengan kebutuhan warga.

Sinergi Pemprov DKI-BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara

Melalui fitur ini, warga tidak hanya dapat memantau kondisi kualitas udara secara real-time, tetapi juga melihat prakiraan kualitas udara hingga tiga hari ke depan.

Informasi kualitas udara tidak lagi hanya menjadi data teknis, tetapi diolah menjadi panduan yang lebih mudah dipahami dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi mengatakan, pengembangan EWS pada website udara.jakarta.go.id merupakan bentuk komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat dari dampak pencemaran udara perkotaan.

“Pengembangan EWS ini juga didukung oleh Breathe Cities, sebuah inisiatif global yang dijalankan oleh Bloomberg Philanthropies, Clean Air Fund, dan C40 Cities, serta diimplementasikan bersama Vital Strategies di Jakarta untuk mendukung kota-kota dalam mewujudkan udara yang lebih bersih dan meningkatkan kesehatan masyarakat,” ungkapnya, Senin (6/7).

Ia menyampaikan, udara.jakarta.go.id merupakan platform resmi Pemprov DKI Jakarta yang menyajikan informasi kualitas udara secara spasial dan real-time.

Melalui peta interaktif, masyarakat dapat melihat kondisi kualitas udara di berbagai wilayah Jakarta berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), termasuk sebaran stasiun pemantau kualitas udara di masing-masing lokasi.

“Fitur Sistem Peringatan Dini ini mengintegrasikan data kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup, prakiraan kualitas udara dari BMKG, serta rekomendasi aktivitas dan informasi kesehatan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam satu layanan yang terintegrasi,” ujarnya.

Dudi menegaskan, pengendalian pencemaran udara merupakan kerja panjang yang membutuhkan kolaborasi. Pemerintah terus memperkuat kebijakan, sistem pemantauan, dan layanan informasi, sementara masyarakat dapat ikut berperan dengan memanfaatkan informasi tersebut untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Ia berharap Sistem Peringatan Dini pada website udara.jakarta.go.id dapat menjadi rujukan utama warga dalam memahami kondisi kualitas udara Jakarta.

Dengan informasi yang lebih mudah diakses, masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan sejak dini dan bersama-sama mendorong terwujudnya Jakarta dengan udara yang lebih bersih dan sehat.

“Pengendalian pencemaran udara membutuhkan kerja bersama. Pemerintah terus memperkuat sistem dan kebijakannya, sementara masyarakat dapat berperan dengan memanfaatkan informasi ini untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar,” pungkas Dudi.

Sebagai informasi, EWS memiliki empat keunggulan utama yang dirancang agar masyarakat lebih mudah memahami dan merespons kondisi kualitas udara.

Pertama, sistem ini menggabungkan data kualitas udara, prakiraan kondisi udara, serta informasi kesehatan dalam satu platform.

Kedua, EWS menyediakan prakiraan kualitas udara hingga tiga hari ke depan pada tingkat kecamatan, sehingga warga dapat merencanakan aktivitas dengan lebih aman.

Ketiga, fitur ini memberikan rekomendasi aktivitas sesuai kondisi masyarakat, termasuk bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis. Rekomendasi tersebut mencakup aktivitas di dalam maupun di luar ruangan, serta dilengkapi informasi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Keempat, EWS juga menyediakan fitur self-assessment atau penilaian mandiri. Melalui fitur ini, masyarakat dapat mengisi survei terkait gejala kesehatan akibat paparan pencemaran udara untuk mengetahui tingkat risiko kesehatan masing-masing, mulai dari rendah, sedang, hingga tinggi.

“Dengan fitur self-assessment ini, masyarakat dapat mengenali kondisi kesehatannya lebih awal dan mengambil langkah penanganan yang sesuai,” tandasnya.

Berita Terkait
Berita Terpopuler indeks
  1. 1.525 Guru PPPK di Jakut dan Kepulauan Seribu Teken Perpanjangan Kontrak Kerja

    access_time01-07-2026 remove_red_eye2715 personAnita Karyati
  2. Bank Jakarta dan BEI Dorong Pertumbuhan Berkualitas di Tengah Dinamika Ekonomi

    access_time01-07-2026 remove_red_eye1029 personFakhrizal Fakhri
  3. Bantaran Anak Kali Ciliwung di Pinangsia Ditanami Pohon

    access_time03-07-2026 remove_red_eye919 personBudhi Firmansyah Surapati
  4. Pramono Sebut Jakarta Siap Terbitkan Obligasi Daerah

    access_time30-06-2026 remove_red_eye869 personDessy Suciati
  5. Pelaku UKM di Jaktim Rasakan Manfaat Pelatihan Gratis

    access_time30-06-2026 remove_red_eye783 personNurito